Pulanglah Dia si Anak Hilang: Kontroversi dari Dekolonialisasi Sebilah Keris Part. 1

Kepulangan keris Kyai Naga Siluman membuat kontroversi panjang di dunia maya. Sangat rumit mengurai benang kusut yang ada dalam perdebatan tersebut. Masalah akan menjadi pelik jika kita melihat, mengapa kepulangan sebilah keris kepada presiden Jokowi memicu perdebatan panjang, sedangkan pemulangan tongkat ziarah Kyai Cokro ke Mendikbud Anies Baswedan tidak mengundang perdebatan? Namun kita dapat mencacah tokoh-tokoh dan wacana-wacana yang berkembang terkait dengan perdebatan panjang tersebut. Dari pencacahan tersebut, kita dapat mengurai masalah-masalah yang berhubungan dengan sebilah keris. Dalam artikel ini, saya menggunakan istilah “keris tersebut/ keris itu” demi menjaga keilmiahan dan menghormati tokoh-tokoh yang tidak setuju dengan penamaan keris tersebut. Dalam artikel ini juga akan dibahas kepentingan diplomasi politik bilateral Belanda-Indonesia dan pemaknaan simbolik dari keris tersebut.

Perdebatan tersebut dapat dibagi menjadi 2 hal: perdebatan mengenai penamaan keris dan perdebatan mengenai hal-hal yang menjadi latar belakang keris. Perdebatan mengenai penamaan keris hanya berkisar dalam 4 hal: jenis dhapur, simbol di wuwungan, dan tahun pembuatan. Perdebatan mengenai latar belakang keris berkisar antar 3 hal: dokumen pendukung, latar cerita, warangka, dan kepulangannya ke Indonesia. Sedangkan tokoh yang berdebat berasal dari kalangan kurator museum, dosen, politisi, budayawan keris, ahli waris dan penceramah yang semuanya masuk aktegori sejarawan. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh yang disebut di artikel ini belum tentu terlibat pertentangan secara langsung, tetapi pendapatnya dikutip oleh kubu-kubu warganet yang bertikai. Tentu saja pihak-pihak yang secara frontal berdebat langsung di media sosial.

Kita akan coba memilah sejarawan yang urun rembug dalam perdebatan ini. Sejarawan yang ikut ada yang dosen, kurator museum, pejabat, dan wartawan majalah sejarah. Dosen yang terlibat adalah Sri Margana (UGM), Peter Carey (UI),  dan Adrian Perkasa (Unila). Kurator Museum yang terlibat adalah Habil Jani Kuhnt-Saptodewo (Museum Vienna, Austria), Ronggojati Sugiyatno (Museum Keris, Surakarta). Sejarawan pejabat yang terlibat adalah Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud) dan wartawan yang terlibat adalah Bonnie Triyana (Majalah Historia). Tokoh-tokoh sejarawan lain yang terlibat ada Fadli Zon (politisi Partai Gerindra, ketua umum Sekretariat Nasional Pekerisan Indonesia, Doktor Ilmu Sejarah UI), Ki Roni Sodewo (ahli waris), Toni Junus (ahli keris) dan Salim A. Fillah (penceramah). Masih ada lagi 2 ahli keris anonim yang diundang oleh pihak kerajaan Belanda, pendapat mereka akan ditampilkan sebagai perbandingan saja dalam pembahasan sengkala.

 Pertentangan pertama adalah tentang nama keris, benarkah itu Kyai Naga Siluman? Sri Margana selaku tim verifikator terakhir menjelaskan bahwa keris tersebut benar-benar Kyai Naga Siluman. Identifikasi dilakukan dengan 3 hal: simbol binatang di wuwungan ganja, jumlah luk, dan kesesuaian bentuk keris dengan gambaran pada dokumen. Dokumen yang digunakan adalah korespondensi antara Sekretariat Kerajaan Belanda, Surat kesaksian Sentot Ali Basya, dan surat Kesaksian Raden Saleh Syarif Bustaman[1]. Sejak awal, Sri Margana tidak pernah berbicara dhapur keris dan warangka. Sejarawan yang mengamini hal ini adalah Habil Jani Kuhnt-Saptodewo, Hilmar Farid, dan Bonnie Triyana. Hanya dua terakhir yang turut datang ke Belanda untuk mendampingi Sri Margana, disasikan oleh Dubes Indonesia untuk Belanda yaitu I Gusti Agung Wesaka Puja. Yang tidak setuju ada Salim A. Fillah, Toni Junus, Fadli Zon, dan Ronggojati Sugiyatno. Pihak netral adalah ahli waris yang diwakili oleh Ki Roni Sodewo yang setuju bahwa dhapur tersebut adalah Nagasasra, tetapi mungkin saja bernama Naga Siluman.

Sri Margana sejak awal tidak pernah membahas jenis dhapur, simbol binatang lain di wuwungan ganja, tahun pembuatan, dan jenis warangka. Terdapat perbedaan pendapat dalam penjelasan jumlah luk. Dalam berita di kerisnews.com disebutkan bahwa dokumen Raden Saleh tidak pernah menyebut jumlah luk sedangkan di berita news.detik.com disebutkan bahwa jumlah luk nya 11.[2] Kemungkinan karena dalam berita kerisnews.com, dokumen tersebut beum tuntas dibaca karena masih banyak tulisannya yang tidak terbaca. Sri Margana menyatakan bahwa hal tersebut adalah pendapat pribadi dan terbuka untuk berbagai masukan.        

Jenis dhapur keris tersebut adalah naga sasra kamoragan luk 11. Keterangan dhapur ini diakui oleh Sri Margana, Salim A. Fillah, Ronggojati Sugiyatno, Toni Junus, dan Ki Roni Sodewo. Fadli Zon mengatakan bahwa dhapur keris adalah naga raja sedangkan Bonnie Triyana, Hilmar Farid, Kuhnt-Saptodewo, Adrian Perkasa, dan Peter Carey abstain. Pertanyaan berikutnya adalah, apa perbedaan naga siluman, naga sasra dan naga raja? Keris disebut keris naga jika bagian ghandik (hidung, sor-soran) berukir kepala naga. Jika naga tersebut mempunyai badan hingga ke buntut pada bagian ujung keris, maka disebut naga sasra. Jika hanya ada bagian kepala saja tanpa badan disebut naga siluman, karena badan naga tersebut raib.[3]

Naga sasra mempunyai ciri-ciri dhapur pendamping yang tidak dimiliki naga siluman. Naga sasra dihiasi ukiran emas biasanya bermotif lung-lungan (sulur tumbuhan) di sepanjang bilah keris dan sisik naga berwarna  emas di bagian tubuh naga. Naga siluman biasanya hanya mempunyai dibagian kepala naga, sedangkan bagian bilah ke atas hanya ada pamor logam biasa (hitam-putih). Naga sasra mempunyai dua jenis desain penutup kepala naga, bentuk topong seperti Adipati Karna dan bentuk mahkota seperti Batara Kresna. Khusus naga sasra dengan hiasan mahkota Batara Kresna, sering disebut naga raja.[4] Tampaknya, semua sejarawan sepakat untuk dhapur keris sebagai naga sasra, dengan pengkhususan pada Fadli Zon bahwa naga sasra tersebut dari jenis naga raja.

Apakah mungkin keris berdhapur naga sasra diberi nama naga siluman? Sri Margana, Ki Roni Sodewo, dan Peter Carey menyatakan mungkin. Salim A. Fillah, Ronggojati Sugiyatno, Toni Junus, dan Fadli Zon menyatakan tidak mungkin, sedangkan Kuhnt-Saptodewo, Adrian Perkasa, Hilmar Farid dan Bonnie Triyana abstain.  Dari yang menjawab mungkin, apakah benar keris berdhapur naga sasra yang baru dipulangkan bernama Kyai Naga Siluman (tanpa membahas siapa pemiliknya)? Kuhnt-Saptodewo dan Sri Margana yakin dengan penamaan tersebut, Ki Roni Sodewo belum dapat memastikan sedangkan Peter Carey abstain. Sebaliknya, diantara yang menolak ada Salim A. Fillah dan Ronggojati Sugiyatno yang menyatakan bahwa penamaan keris dapat berbeda dengan jenis dhapur. Ki Roni Sodewo tampaknya tidak dapat mengakses objeknya langsung, tidak dapat mengakses dokumen, atau tidak mempunyai pengetahuan tentang metode verifikasi artefak. Peter Carey tampaknya tidak mengetahui ihwal perkerisan, atau paham tetapi tidak berkepentingan mengetahui kebenaran verifikasi. Semakin kita menggali keterangan, tampaknya yang menunjukkan sikap abstain dan tidak mengeluarkan bantahan menjadi lebih banyak. Setelah ini, hanya akan disebutkan pihak-pihak yang menentang dan mendukung saja.

Kelompok yang menolak penamaan lintas dhapur masing-masing memberi argumen. Salim A. Fillah sendiri di laman Facebook-nya hanya mengutip Ronggojati Sugiyatno, artinya beliau tidak punya pendapat pribadi dalam hal ini.[5] Ronggojati dengan tegas menolak bahwa penamaan keris tersebut dengan Kyai Naga Siluman naga siluman adalah dhapur tersendiri. Namun beliau berpendapat bahwa ada saja keris yang dinamai tidak sesuai jenis dhapurnya seperti Kyai Bethok dan Kyai Carubuk.[6] Hal ini juga sesuai dengan penjelasan Sri Margana yang menyebutkan bahwa keris Kyai Naga Polah milik Rangga Prawirodirdjo berdhapur naga sasra. Dari sini, pihak-pihak yang menentang penamaan keris tersebut sepakat bahwa pernah terjadi penamaan lintas dhapur dalam sejarah.

Siapa saja yang mengetahui latar belakang munculnya keris itu di tangan Pangeran Diponegoro? Hanya sejarawan Peter Carey yang menceritakan kemunculan keris ini di saat beliau paling banyak abstain dalam masalah verifikasi. Bagaimana latar belakang munculnya keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro? Pangeran Diponegoro bersemedi di Gua Siluman, pantai Selatan dalam pengembaraan tahun 1805. Gua Siluman adalah tempat bersemayamnya Putri Genowati, salah satu wakil Ratu Nyi Roro Kidul. Ketika bersemedi dalam gua itu lah, Pangeran Diponegoro didatangi sosok mistis. Tampaknya, nama gua atau nama sosok mistis itu yang membuat keris berghandik naga itu mempunyai nama siluman. Lengkapnya adalah keris Naga Sasra dari gua Siluman, keris Naga Sasra milik Siluman penunggu gua, atau Keris Naga Sasra penghubung manusia dengan para siluman selatan. Peter Carey menyebutkan bahwa jika keris itu dilempar ke Laut Selatan, menurut kepercayaan Jawa akan terbuka sebuah pintu gaib menuju alam dewa-dewi.[7]

Terdapat perbedaan tentang sosok siluman yang mendatangi Sang Pangeran untuk sebuah semedi di tahun yang sama dari intrepetasi ahli yang sama pula. Suatu kali, Peter Carey menyebutkan bahwa sosok yang mendatangi Pangeran Diponegoro adalah Putri Genowati[8] sedangkan kali lainnya menyebutkan bahwa yang datang adalah Ratu Kidul sendiri.[9] Bisa jadi sosok itu merujuk pada hari yang berbeda. Dalam kisah semedi di Jawa, biasanya seseorang akan diganggu oleh gangguan ringan sampai yang berat. Hal ini terlihat dalam kisah Arjuna yang bertapa dan digoda dari hari per hari dengan godaan yang meningkat. Atau bisa jadi mereka berdua adalah sosok yang sama. Secara bahasa, ratu berarti penguasa dan kidul berarti selatan. Artinya, sosok yang mendatagi Pangeran Diponegoro adalah penguasa selatan yang bernama Putri Genowati, bukan Nyi Roro Kidul. Hal ini juga terlihat dalam mitos Nyi Blorong yang dianggap Ratu Kidul, tetapi wujud Nyi Blorong yang berupa ular sangat berbeda dengan gambaran Nyi Roro Kidul yang berwujud permaisuri raja jawa. Bahkan Nyi Roro Kidul ini ada yang membedakannya lagi dengan Kanjeng Ratu Kidul yang menjadi atasannya. Tampaknya Kerajaan Mistis Laut Selatan berbentuk monarki federal, dengan penguasa berdaulat di setiap negara bagian. Jika melihat sumber lain, Wardiman Djojonegoro pun hanya menukil Ratu Kidul tanpa frasa Nyi Roro ataupun Kanjeng.[10] Dan kemungkinan yang terakhir adalah kesalahan penukilan oleh 2 orang wartawan historia.id yang berbeda. Dari ketiga kemungkinan ini, belum dapat dipastikan mana yang lebih mendekati kebenaran. 


[1] Jimmy S. Harianto “Keris Kyai Naga Siluman atau Bukan?” dari https://kerisnews.com/2020/04/29/keris-kiai-naga-siluman-atau-bukan/ pada tanggal 23 April 2020 pukul 01.24.

[2] Tim detikcom. “Keris Pangeran Diponegoro Dikembalikan, Keaslian Dipertanyakan” dari https://news.detik.com/berita/d-4933862/keris-pangeran-diponegoro-dikembalikan-keaslian-dipertanyakan/3 pada 23 Mei 2020 pukul 01.25.

[3] Riyo S. Danumurti. “Menelisik Kembali Dhapur Naga Siluman dan Naga Sasra” dari https://kerisnews.com/2020/03/17/menelisik-kembali-keris-dhapur-naga-siluman-dan-nagasasra/ pada tanggal 23 Mei 2020 pukul 10.11.

[4] Ibid.

[5] Salim A. Fillah. “Keris Sang Pangeran: Review Polemik Kepulangan ‘Naga Siluman’ ” . dari https://web.facebook.com/salim.a.fillahempat/posts/3259636994088272?_rdc=1&_rdr pada 23 Mei 2020 pukul 10.48.

[6] Ibid.

[7] Randy Wirayuda. ”Riwayat Keris Bertuah Milik Diponegoro” dari https://historia.id/kultur/articles/riwayat-keris-bertuah-milik-diponegoro-Pdlk1 pada 25 Mei 2020 pukul 04.43.

[8] Ibid.

[9] Hendri F. Isnaeni. “Keris Mistis Pangeran Diponegoro” dari https://historia.id/kultur/articles/keris-mistis-pangeran-diponegoro-PRVRk pada 25 Mei 2020 pukul 08.47.

[10] Djojonegoro, Wardiman.“Bersama Peter Carey Menyukseskan Nominasi Babad Diponegoro ke MOW UNESCO”. Dalam FX Domini BB Hera (Penyunting), Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2019), hlm. 83.

Diterbitkan oleh hilalsosialis

Muhammad Hilal. S.P adalah seorang lulusan S1 Agronomi dan Hortikultura IPB, Bogor dan kandidat Magister Humaniora di jurusan pasca sarjana Ilmu Sejarah UGM. Mendalami masalah sejarah pertanian pedesaan dan kaitannya dengan budaya agama di masyarakat. Penulis lepas dan pengajar privat. Sosialisdotid adalah blognya untuk berbagi tentang pelajaran dan sudut pandang ilmu-imu sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: