Pulanglah Dia si Anak Hilang: Kontroversi dari Dekolonialisasi Sebilah Keris Part. 2

Dari semua pihak yang menolak, siapa yang menawarkan nama yang lebih tepat untuk keris tersebut? Tampaknya hanya Toni Junus yang berani mengatakan bahwa nama keris tersebut adalah Kyai Wresa Gumilar. Bahkan dalam pernyataanya, Toni Junus juga mengoreksi bahwa nama yang tepat adalah Reso Gumilang dan bukan Wresa Gumilar. Toni Junus menggunakan metode padhuwungan (ilmu keris dan kecocokannya dengan sang pemilik) dan olah rasa. Alasan yang diberikan untuk menolak nama keris sangatlah umum, jenis dhapur. Ada pun nama yang cocok didapat dari hasil lah rasa pada suatu malam yang menurunkan gambaran sinar. Menurut Toni, sinar artinya gumilang (gemilang).[1]

Metode Toni Junus tampaknya perlu dirinci, apakah termasuk tafsir mimpi, indera keenam, atau wangsit/mediumisasi dari makhluk gaib. Jika tafsir mimpi, maka perlu diteliti berapa kali Toni Junus menafsirkan mimpi dan berapa kali benar. Dalam kondisi apa beliau melakukan kebenaran dan dalam kondisi apa beliau melakukan kesalahan. Jika indera keenam, harus dicek berapa kali indera keenammnya benar dalam menebak dan berapa kali salah. Dalam kondisi apa beliau melakukan kebenaran dan dalam kondisi apa beliau melakukan kesalahan. Kalau termasuk wangsit dari makhluk gaib, apakah makhluk tersebut mempunyai kredibilitas dalam mengenali keris. Ilmu sejarah selalu terbuka untuk metode-metode baru dan sumber-sumber pembanding selama masih bisa diverifikasi dan divalidasi. Yang agak aneh, mengapa pendapat Toni Junus yang dekat kepada kebatinan ini dikutip banyak oleh Salim A. Fillah yang puritan?[2]    

Dengan banyak ketidaksesuaian nama dan dhapur artefak, apakah benar keris tersebut milik Pangeran Diponegoro yang memberontak pada 1825-1830 (bukan diponegoro yang lain)? Dari pihak yang meendukung sudah pasti setuju dengan Pangeran Diponegoro yang dimaksud. Dari pihak yang menolak,  Fadli Zon dan Toni Junus setuju bahwa keris tersebut adalah milik Pangeran Diponegoro. Perlu dilihat lebih lanjut bahwa yang tidak berkomentar mayoritas belum bisa mengakses artefak secara langsung, tidak mempunyai ilmu tentang keris,  atau tidak punya keahlian membaca arsip.  

Apakah metode verifikasi yang dilakukan selama ini sudah benar secara umum? Kuhnt-Saptodewo, Sri Margana, Adrian Perkasa dan Bonnie Triyana sudah setuju. Ronggojati Sugiyatno, Salim A. Fillah, dan Fadli Zon menyatakan tidak setuju, sedangkan sisanya abstain. Dari semua yang tidak setuju, alasannya hampir senada yaitu tidak dilibatkannya pakar keris dalam verifikasi. Dari semua yag tidak setuju, tidak ada satu pun yang mengungkapkan cerita tentang pemanggilan 2 ahli keris ke Belanda. Sebaliknya, dari yang setuju sama sekali tidak ada yang menyebutkan kegiatan ahli keris lebih selain menerka binatang simbol sengakala. Namun tampaknya, perbedaan penafsiran sengkala membuat pihak kerajaan Belanda menyangka bahwa gambar-gambar keris sangat multi-tafsir bahkan diantara ahli keris sendiri.

Secara khusus, apakah identifikasi keris dengan melihat wuwungan ganja adalah benar? Dari semua ahli, hanya Sri Margana saja yang setuju dengan hal tersebut. Toni Junus, Ronggojati Sugiyatno, dan Salim A. Fillah dengan jelas tidak menyetujui. Sisanya adalah abstain. Pihak yang abstain ini secara umum tidak mengerti tentang ilmu perkerisan atau tidak dapat mengakses artefak secara langsung. Tampaknya pula, ada kesalahan dalam identifikasi naga jawa. Naga Jawa sebagian besar tidak mempunyai kaki, bersisik di sekujur tubuh, dan mempunyai mahkota. Lambang yang ada di wuwungan ganja sama sekali tidak pakai mahkota, berkaki, tidak bersisik, dan lebih mirip barong.

Lalu, binatang apa yang sebenarnya ada di wuwung ganja? Ronggojati dan Salim A. Fillah sepakat bahwa binatang itu adalah singa yang biasanya berpasangan dengan gajah di bagian depan pesi. Arti dari binatang itu adalah candra sengkala gajah (8), singa (5), keris (5), dan siji (1). Artinya keris ini dibuat pada 1558 tahun Caka atau 1636 Masehi zaman Sultan Agung menundukkan Adipati Pragola II di Pati. Arti singa dan gajah sendiri adalah singa nggero gajah nggiwar (singa mengaum, gajah menghindar). Singa adalah perlambang Mataram dan gajah adalah perlambang Pati.[3] Namun gambar Gajah sudah tidak bisa diidentifikasi lagi.

Dari semua perdebatan tersebut, hanya Bonnie Triyana dan Fadli Zon yang berebat langsung di media sosial. Tampaknya, perdebatan hanya masa pada masalah verifikasi yang kurang baik dan masalah dhapur yang berbeda dengan nama.[4] Dari semua, hanya Ronggojati Sugiyatno saja yang membahas masalah warangka (sarung keris). Warangka yang dipakai adalah Ladrangan Kagok khas Surakarta dan Pangeran Diponegoro adalah orang Yogyakarta.[5] Hal ini bisa dimaknai bahwa keris tersebut dibuat zaman sultan Agung, sebelum perjanjian Giyanti membelah Mataram. Warangka tersebut juga sangat wajar karena pemberontakan Pangeran Diponegoro didukung Paku Buwono VI.[6] Pangeran Diponegoro pun tidak pernah menyebut Kyai Naga Siluman dalam Babadnya.[7]  Maka dapat dipastikan bahwa keris tersebut adalah milik Diponegoro tetapi bukan sesuatu yang digunakan untuk identifikasi jati dirinya karena berbeda pakem warangka. Dari semua ahli, hanya Salim A. Fillah yang mempermasalahkan cara penyajian keris yang simpingan kiwa (warangka terbalik) yang memiliki makna antagonis.[8] 

Pengembalian keris ini mewarnai penguatan hubungan dagang antara Indonesia dengan Belanda. Peter Carey menyebutkan bahwa sebelum pengembalian keris, ada rombongan utusan dagang Belanda yang datang ke Indonesia. Romobongan itu terdiri dari Sigrid Kaad (Menteri Kerjasama Dagang dan Pembnguna Luar Negeri), Cora van Nieuwenhuizen (Menteri Infrastruktur dan Manajemen Air),dan Bruno Bruins (Menteri Perawatan Medis).[9]

Pengembalian ini juga berdampak pada rekonsiliasi sejarah antara Indonesia dan Belanda. Di Pengadilan Dalam Negeri, Pemerintah Belanda telah terbukti melakukan kejahatan perang. Ada dua pihak yang mewakili tanggapan permintaan maaf ini, Anhar Gonggong dan Irma Devi. Anhar Gongong mempunyai hubungan darah dengan banyak korban kejahatan perang Belanda, diantara korban tersebut adalah ayah kandung dan kakaknya. Selain ayah dan kakak kandung, masih ada banyak saudaranya yang gugur. Menurut beliau, kejahatan perang Belanda sebelum Proklamasi bisa dimaknai sebagai kejahatan di wilayah kolonialnya sendiri. Kejahatan setelah proklamasi adalah kejahatan yang dilakukan di sebuah negara merdeka. Senada dengan Anhar Gonggong, Irma Devi menyatakan bahwa kasus kejahatan perang Belanda seharusnya diselesaikan di Mahkamah Internasional bukan di Pengadilan Dalam Negeri Belanda meskipun sama-sama di Den Haag. Artinya, kejahatan itu dilakukan oleh sebuah negara terhadap negara lain, bukan terhadap warga di wilayahnya sendiri.[10]

Permintaan maaf Belanda masih menimpan ganjalan dalam keluarga korban, tetapi secara umum sudah merupakan kemajuan tahap rekonsiliasi sejarah. Sejak awal proklamasi, Belanda dan Indonesia membangun narasinya masing-masing tentang berbagai hal. Tahun 2016 menjadi awal yang baik bagi rekonsiliasi sejarah, dimulai dengan pendirian historiabersama.com oleh sekelompok anak muda Indonesia dan Belanda[11]. Tentu saja jasa yang perlu disebut adalah Marjolein van Pagee dari Belanda dan Ady Setyawan dari Indonesia.

Untuk mengetahui pemaknaan simbolik yang terkandung didalam keris ini, kita akan mengtahui seberapa besar pemaknaan keris ini oleh Sang Pangeran itu sendiri. Ada tiga catatan penting yang memuat daftar senjata Pangeran Diponegoro yaitu Babad beliau sendiri yang mencapai 1.100 halaman, daftar senjata yang dibuat pemerintah kolonial untuk dibagikan kepada keturunannya, dan catatan Jenderal De Kock. Keris bernama Kyai Naga Siluman sama sekali tidak disebut dalam semua catatan itu. Berpindah tangannya keris ke Kolonel Clerens pun sebenarnya masih dipertanyakan.[12] Bahkan sejarawan Pater Carey menyatakan bahwa keris yang paling utama milik Pangeran Diponegoro adalah Kyai Bondoyudo. Keris itu turut dikubur bersama jasad Sang Pangeran karena mempunyai aji-aji dan kekuatan gaib yang tidak layak dimiliki oleh orang lain.[13]

Lalu mengapa keris yang berjuluk Kyai Naga Siluman ini yang dipulangkan dan bukan keris lainnya yang tercatat di salah satu catatan tersebut? Tampaknya komentar Kraus di akhir artikel lah yang membuat keris ini yang dipulangkan. Kraus mengatakan bahwa hilangnya keris Kyai Naga Siluman mebuka ruang intrepetasi mistik dan spekulasi.[14] Di beberapa situs penjualan pusaka online, tampak dijual beberapa keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro dengan imbalan sejumlah mahar tertentu.

Selain menghentikan cerita yang mengarah ke komersial, keris ini juga memunculkan memori dan sejarah Pangeran Diponegoro ke permukaan. Hal-hal baru yang belum ada di pelajaran sekolah pun muncul juga. Para tokoh-tokoh sejarawan yang selama ini meneliti  Sang Pangeran pun menjadi lebih dikenal di masyarakat. Tampaknya, keris yang kontroversial lebih baik daripada keris yang tanpa kontroversi sama sekali. Dengan keris yang kontroversi dan menimbulkan perdebatan, berita tentang keris dan pemiliknya dapat viral lebih lama dibandingkan dengan dengan berita bagus tanpa perdebatan yang hanya akan muncul sekali saja. Dalam konteks histirografi Indonesia, kita dapat melihat pembangunan Indonesia dari konteks pemberontakan lokal di Jawa. Sedangkan dari pewarisan sejarah, keris ini menjadi salah satu niatan baik Belanda untuk melakukan dekolonialisasi dan repatriasi barang-barang yang diambil selama masa kolonial.[15]               

Daftar Pustaka

Carey, Peter. 2020. “Jauh di Mata Jauh di Hati, Renungan atas Kembalinya Keris Diponegoro” dari https://langgar.co/renungan-pengembalian-keris-diponegoro/ diakses pada 25 Mei pukul 19.48.

Danumurti, Riyo S. 2020. “Menelisik Kembali Dhapur Naga Siluman dan Naga Sasra” dari https://kerisnews.com/2020/03/17/menelisik-kembali-keris-dhapur-naga-siluman-dan-nagasasra/ diakses pada tanggal 23 Mei 2020 pukul 10.11.

Djojonegoro, Wardiman.“Bersama Peter Carey Menyukseskan Nominasi Babad Diponegoro ke MOW UNESCO”. Dalam FX Domini BB Hera (Penyunting), Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2019), hlm. 83.

Fillah, Salim A.. 2020. “Keris Sang Pangeran: Review Polemik Kepulangan ‘Naga Siluman’ ” . dari https://web.facebook.com/salim.a.fillahempat/posts/3259636994088272?_rdc=1&_rdr diakses pada 23 Mei 2020 pukul 10.48.

Harianto, Jimmy S. 2020. “Keris Kyai Naga Siluman atau Bukan?” dari https://kerisnews.com/2020/04/29/keris-kiai-naga-siluman-atau-bukan/ diakses pada tanggal 23 April 2020 pukul 01.24.

Isnaeni, Hendri F. 2020. “Keris Mistis Pangeran Diponegoro” dari https://historia.id/kultur/articles/keris-mistis-pangeran-diponegoro-PRVRk diakses pada 25 Mei 2020 pukul 08.47.

Pamungkas, M. Fazil. 2020. “Kemenangan Semu atas Kejahatan Perang Belanda” dari https://historia.id/militer/articles/kemenangan-semu-atas-kejahatan-perang-belanda-vo1AN diakses pada 25 Mei 2020 pukul 20.08.

Raditya, Iswara N. 2020. “Pakubuwono VI (1807-1849): Peran Ganda Raja Surakarta Berujung Petaka” dari https://tirto.id/peran-ganda-raja-surakarta-berujung-petaka-crZU diakses pada 25 Mei 2020 pukul 14.16.

Tim detikcom. 2020. “Keris Pangeran Diponegoro Dikembalikan, Keaslian Dipertanyakan” dari https://news.detik.com/berita/d-4933862/keris-pangeran-diponegoro-dikembalikan-keaslian-dipertanyakan/3 diakses pada 23 Mei 2020 pukul 01.25.

Tim Historibersama. 2020. “Tentang Kami” dari https://historibersama.com/histori-bersama/tentang-kami/?lang=id diakses pada 25 Mei 2020 pukul 20.16.

TimViva. 2020. “Perang Cuit Fadli-Bonnie Triyana Soal Keris Naga Siluman Diponegoro” dari https://www.viva.co.id/berita/nasional/1204873-perang-cuit-fadli-bonnie-triyana-soal-keris-naga-siluman-diponegoro?medium=jangan-lewatkan&campaign=jangan-lewatkan-1 diakses pada 25 Mei 2020 pukul 13.52.

Wijaya, Callistasia. 2020. “Indonesia-Belanda: Ratusan Ribu Benda Bersejarah Indonesia dimiliki Belanda, Akankah Segera Dikembalikan?” https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51749544 diakses pada 25 Mei 2020 pukul 21.42.

Wirayuda, Randy. 2020.”Riwayat Keris Bertuah Milik Diponegoro” dari https://historia.id/kultur/articles/riwayat-keris-bertuah-milik-diponegoro-Pdlk1 diakses pada 25 Mei 2020 pukul 04.43.


[1] Risa Herdahita Putri. “Keraguan Tehadap Keris Diponegoro” dari https://historia.id/kultur/articles/keraguan-terhadap-keris-diponegoro-PRV5A  pada 25 Mei 2020 pukul 09.48.

[2] Salim A. Fillah. Loc Cit.

[3] Riyo S. Danumurti. Loc Cit.

[4] TimViva. “Perang Cuit Fadli-Bonnie Triyana Soal Keris Naga Siluman Diponegoro” dari https://www.viva.co.id/berita/nasional/1204873-perang-cuit-fadli-bonnie-triyana-soal-keris-naga-siluman-diponegoro?medium=jangan-lewatkan&campaign=jangan-lewatkan-1 pada 25 Mei 2020 pukul 13.52.

[5] Tim Detik. Loc Cit.

[6] Iswara N Raditya “Pakubuwono VI (1807-1849): Peran Ganda Raja Surakarta Berujung Petaka” dari https://tirto.id/peran-ganda-raja-surakarta-berujung-petaka-crZU pada 25 Mei 2020 pukul 14.16.

[7] Salim A. Fillah. Loc Cit.

[8] Ibid.

[9] Peter Carey. “Jauh di Mata Jauh di Hati, Renungan atas Kembalinya Keris Diponegoro” dari https://langgar.co/renungan-pengembalian-keris-diponegoro/ pada 25 Mei pukul 19.48.

[10] M. Fazil Pamungkas. “Kemenangan Semu atas Kejahatan Perang Belanda” dari https://historia.id/militer/articles/kemenangan-semu-atas-kejahatan-perang-belanda-vo1AN pada 25 Mei 2020 pukul 20.08.

[11] Tim Historibersama. “Tentang Kami” dari https://historibersama.com/histori-bersama/tentang-kami/?lang=id pada 25 Mei 2020 pukul 20.16.

[12] Randy Wirayudha.Loc Cit.

[13] Randy wirayudha. Loc Cit.

[14] Hendri F. Isnaeni. Loc Cit.

[15] Callistasia Wijaya. “Indonesia-Belanda: Ratusan Ribu Benda Bersejarah Indonesia dimiliki Belanda, Akankah Segera Dikembalikan?” dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51749544 pada 25 Mei 2020 pukul 21.42

Diterbitkan oleh hilalsosialis

Muhammad Hilal. S.P adalah seorang lulusan S1 Agronomi dan Hortikultura IPB, Bogor dan kandidat Magister Humaniora di jurusan pasca sarjana Ilmu Sejarah UGM. Mendalami masalah sejarah pertanian pedesaan dan kaitannya dengan budaya agama di masyarakat. Penulis lepas dan pengajar privat. Sosialisdotid adalah blognya untuk berbagi tentang pelajaran dan sudut pandang ilmu-imu sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: